News Update :

Terapi Penyembuhan Kalbu dengan Dzikrullah

Ingat kpd Allah (dzikrullah) berfungsi sbg obat penawar sekaligus penyembuh penyakit kalbu, penyakitnya adalah kelalaian. Jadi, utk semua kalbu yg sakit, obatnya adalah zikir kpd Allah Swt, seperti dikatakan: 'Jika kami sakit, Engkau obati kami dgn mengingat-Mu. Bila kami tinggalkan zikir tentu penyakit akan kambuh. Berkata Makhul, mengingat Allah Ta'ala itu obat sedang mengingat manusia adalah penyakit'. Demi Allah, sungguh aneh diri kita ini. Karena kebodohan, kita menjauhi obat lalu meraih penyakit. Allah Swt berfirman: "Karena itu, ingatlah kamu kpd-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kpdmu" (Al-Baqarah [2]: 153); "Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yg lain)"(Al-'Akabut [29]:45). Allah juga berfirman: "(Yaitu) orang-orang yg berimam dan hati mereka menjadi tenteram dgn mengingat Allah. Ingatlah, hanya dgn mengingat Allah-lah, hati menjadi tenteram".(Ar-Ra'ad [13]: 28). Tetapi kalbu tdk siap dgn kondisi demikian kecuali bila datang kpdnya taufik dari Allah Swt. Maka barangsiapa yg sering berdoa dan selalu mengetuk pintu taufik, tentu pintu taufik akan dibukakan untuknya. Dzikrullah menghasilkan kejernihan kalbu, setelah membersihkan karatnya. 

Tidak diragukan, kalbu juga berkarat sebagaimana tembaga dan perak. Adapun cara utk mengkilatkannya dpt dilakukan dgn zikir, karena zikir akan menjernihkannya sampai mengkilap bagaikan sebuah cermin yg bersih. Jika zikir ditinggalkan, kalbu akan kembali berkarat; bila zikir senantiasa dilakukan, pasti kalbu akan selalu cemerlang. Karena kalbu seseorang menjadi berkarat karena dua hal; karena lalai dan dosa. Maka utk menjadikannya cemerlang, juga harus dgn dua hal, yaitu dgn zikir dan istigfar. Barangsiapa yg kelalaiannya selalu mendominasi waktu-waktunya, maka karat akan bertumpuk-tumpuk pula menutupi kalbunya, karena keberadaan karat itu seukuran dgn keberadaan lalainya. Apabila kalbu itu sudah berkarat, tentu tdk akan tercetak padanya gambaran dari ilmu pengetahuan sebagaimana mestinya. Akibatnya, tdk jarang seseorang akan melihat kebatilan dlm bingkai kebenaran, dan mendapatkan kebenaran dlm bingkai kebatilan. Sebab, karat yg telah bertumpuk-tumbuk di permukaan kalbu itu menyebabkan kegelapan yg mengakibatkan gambaran dari seluruh hakikat tdk bs terlihat secara utuh. Selanjutnya, apabila karat dipermukaan kalbu itu kian menumpuk dan menghitam lalu diselimuti pula oleh ar-ra'an, yakni sesuatu yg sering menyumbat kalbu, maka akan rusaklah daya konseptualisasi dan persepsinya sehingga ia tdk berdaya lagi utk menerima kebenaran atau menolak kebatilan. Tentu saja ini merupakan konsekuensi yg amat berat yg harus diterima oleh kalbu. Namun, ketahuilah, pangkal masalah dari semua kerusakan ini adalah kelalaian dan pemanjaan hawa nafsu; keduanyalah yg telah menghapuskan cahaya kalbu dan membutakan pandangannya. Allah Swt berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti orang yg kalbunya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas" (Al-Kahfi [18]: 28).
Ikut Berdakwah Dengan Sebarkan Artikel ini :

0 komentar:

Post a Comment

 

© Copyright Dzikrullah 2010 -2011 | Design by Dzikrullahr | Published by www.dzikrullah.org | Powered by Blogger.com.