close
Banner iklan disini

Dzikir

..::: ..::Semoga Di Awal Tahun ini - Banyak Manfaat Yang kita Dapatkan..::..Selamat Datang Di ITBI..::..AYO GABUNG BERSAMA ITBI..::..Ikatan Terapis Bekam Indonesia..::..Bagi Anggota ITBI ketika mendaftarkan diri dan belum melampirkan fotocopy KTP dan surat Pernyataan Keanggotaan , Mohon mengirimkan secepatnya ke alamat email : informasi.online@yahoo.co.id..::..Belum Menjadi Anggota ITBI...?, Silahkan Daftar Di sini....... .::. Bantu Kami Dalam Mendakwahkan Pengobatan Islam dengan Menebar Link WWW.i-tbi.org di blog dan Website Anda, Serta Menebarkan LINK LOGO ITBI..::..Semoga Allah SWT Membalas kebaikan semua.AMIN ...::..Bagi yang telah mendaftarkan diri sebagai Anggota ITBI secara Online dan Belum melampirkan nomor urut ATM, tanggal dan jumlah tranfer atau nomor bukti cetak bukti setoran tunai, dimohon melampirkannya agra sertifikat keanggotaan dapat dibuat dan dikirimkan....:::...Bagi Anggota yang membutuhkan Rekomendasi ITBI silahkan kirimkan via email surat permohonan Rekomendasi dari ITBI

Rasulullah Pernah Terkena Sihir

Sihir tidak akan dapat memberikan manfaat maupun mudharat kecuali jika Allah menghendaki.

Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ 

Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulai­man (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; se­dangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir." Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mere­ka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempe­lajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak mem­beri manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat; dan amat jahatlah per­buatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka me­ngetahui. (QS Al-Baqoroh Ayat 102)

Syaikhul Islam Abu Utsman Ismail Ashabuni berkata: “Mereka (Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ

"Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Baqarah:102) 

Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah Ta'ala.” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits oleh Syaikhul Islam Ashabuni)

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Al-Maziri berkata: Sebagian ahli bid’ah mengingkari sihir yang menimpa Rasulullah ini. Mereka menyangka bahwa hal ini akan menjatuhkan kedudukan nubuwwah dan akan memberi keraguan. Mereka berkata: Siapa saja yang berkata demikian maka itu adalah pengakuan batil.” (Fathul Bari 10/226)

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengisahkan: “Terdapat sebuah boneka dari lilin untuk disantet kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini seperti terkandung dalam riwayat Umrah dari Aisyah. Ini adalah salah satu cara kerja ahli nujum.” (Fathul Bari 10/230)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan sekelompok manusia telah mengingkari hal ini (disihirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam-red). Mereka mengatakan: “Ini tidak boleh menimpa diri Rasul,” bahkan mereka menganggap ini sebagai suatu kekurangan dan aib. Dan perkaranya tidak seperti yang mereka duga, akan tetapi sihir tersebut adalah dari jenis perkara (penyakit) yang berpengaruh terhadap diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini termasuk  dari jenis-jenis penyakit yang menimpanya sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga tertimpa racun, di mana tidak ada perbedaan antara pengaruh sihir dengan racun.” (Zaadul Ma’ad 4/ 124)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga  menyebutkan dari Qadhi Iyadh rahimahullah, bahwasanya beliau berkata: “Kejadian disihirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menodai kenabian beliau. Adapun keberadaan atau kejadian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dikhayalkan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya, hal ini tidaklah mengurangi sifat shiddiq (jujur) yang ada pada diri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dikarenakan adanya dalil bahkan ijma’ (kesepakatan umat Islam) atas kemaksuman (terpelihara dari dosa dan kesalahan) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari hal tersebut, akan tetapi hal ini suatu perkara duniawi yang mungkin bisa menimpanya. Yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak diutus karena sebab tersebut dan tidak diberi keutamaan, karenanya pula beliau dalam hal ini seperti manusia yang lainnya, maka tidak mustahil untuk dikhayalkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari perkara-perkara yang tidak ada hakekatnya baginya, kemudian hilang dari beliau dan kembali seperti keadaan semula.” (Zaadul Ma’ad 4/ 124)

Qadhi Iyadh berkata: “Tampaklah sesungguhnya sihir. Dia mampu menguasai jasad dan memperlihatkan pengaruhnya. Namun bukan pada keistimewaan dan keyakinannya. Sihir yang menimpanya bagai penyakit yang dengan kehendak Allah lalu disembuhkan. Ini bukanlah perkara yang mengandung nilai kekurangan, bukan juga perkara aneh bagi Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam, seperti sakit wajar bagi seorang Nabi, rasa pusing Rasulullah, kakinya robek atau tubuhnya terluka. Ini adalah ujian yang diberikan Allah agar makin meningkatkan derajat dan menambahkan kemuliaannya. Ujian terhebat yang pernah menimpa manusia adalah ujian bagi para Nabi. Mereka diuji oleh umatnya dengan berbagai percobaan pembunuhan, pemukulan, makian dan penyanderaan. Karena itu, bukanlah sesuatu yang dibuat-buat jika Nabi diserang oleh musuhnya dengan sihir. Seperti halnya orang yang menguji Rasul dengan melemparinya hingga tulangnya patah. Diuji dengan penyakit yang muncul di punggung plasentanya hingga tak berdaya, dan lainnya. Ini bukanlah kekurangan, atau aib memalukan terhadap para Nabi. Hal ini bahkan menambah kesempurnaan dan ketinggian derajat mereka.” (Fathul Bari 10/227 dan Tafsir Al-Muawwidzatain oleh Ibnul Qayyim hal. 29, 30)

Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah telah berpendapat bahwa sihir itu telah pasti ada dan memiliki hakikat. Sedangkan penganut Mu'tazilah secara umum dan Abu Ishaq al-Istirabadi, salah seorang penganut madzhab Syafi'i berpendapat, bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat, tetapi sihir hanya merupakan tindakan pengelabuhan, pemunculan bayangan dan penipuan terhadap sesuatu, tidak seperti yang (tampak) sebenarnya. Sihir ini tidak ada bedanya dengan hipnotis dan sulap. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala: "Terbayang oleh Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka". (QS. Thaha : 66)
Dan Allah tidak mengunakan kata tas'aauntuk pengertian yang sebenarnya, tetapi Dia mengatakan: Terbayangkan oleh Musa. Selain itu, Dia juga berfirman: "Mereka menyihir mata umat manusia". (QS. Al-A'raf : 116) Yang demikian itu tidak mengandung hujjah sama sekali, karena tidak memungkiri pengelabuan dan juga selainnya,yang merupakan bagian dari sihir. Tetapi, telah ditetapkan di balik itu berbagai hal yang diterima oleh akal dan pendengaran. Diantara hal itu adalah apa yang disebutkan dalam ayat diatas yang menyebutkan sihir dan mempelajarinya. Seandainya sihir itu tidak memiliki hakikat, maka tidak mungkin untuk dipelajari dan juga Allah Ta'ala tidak akan memberitahukan bahwa mereka mengajarkan sihir itu kepada umat manusia. Yang mana hal itu menunjukan bahwa sihir itu memang mempunyai hakikat. Begitupun firman Allah Ta'ala yang menceritakan tentang kisah para tukang sihir Fir'aun:“Mereka mendatangkan sihir yang besar.”(Al- A'raf : 116) dan Surat Al-Falaq, di mana para ahli tafsir telah bersepakat bahwa sebab turunnya ayat ini adalah berkenaan dengan sihir Labid bin al-A'sham, hal tersebut juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim serta perawi lainnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah disihir oleh seorang Yahudi dari suku Bani Zuraiq, yang bernama Labid Al A'sham.” Di dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pada saat mengobati sihir berkata:“Sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku.” Kata Asy-syifa adalah terjadi dengan menghilangkan sebab dan menghilangkan penyakit, sehingga hal itu menunjukan bahwa sihir itu memang ada dan hakiki. Keberadaan dan kejadian sihir itu dipastikan ada melalui pemberitahuan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Ulama telah mengeluarkan Ijma' (kesepakatan) mengenai hal tersebut. Dengan adanya kesepakatan mereka ini, maka tidak perlu dipedulikan lagi kebodohan kaum Mu'tazilah dan penentangan mereka terhadap pemegang kebenaran. Pada zaman-zaman dulu, sihir ini telah tersebar luas dan banyak di perbincangkan oleh umat manusia, dan tidak tampak adanya penolakan (tentang adanya sihir) dari para Sahabat dan Tabi'in.” (Tafsir al-Qurtubi II / 46)

Beberapa ahli bid’ah mengingkari hadits-hadits tentang tersihirnya Nabi. Mereka berdalil dengan ayat berikut:

“Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (QS. Al-Isra’: 47)

Mereka beranggapan bahwa Allah telah membantah prasangka orang kafir bahwa Nabi terkena sihir. Seandainya Nabi dapat disihir, secara tidak langsung hal itu membenarkan perkataan orang kafir sebagaimana diterangkan dalam Firman Allah: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” Selain itu, peristiwa penyihiran yang menimpa Nabi akan mengguncang makna kenabiannya dan menimbulkan keraguan. Ketika mengusung pendapat bahwa Nabi berimajinasi melihat Jibril, tapi bukan Jibril atau dia merasa diwahyukan sesuatu tapi tidak ada wahyu itu. Tidak pantas Nabi Muhammad terkena sihir.


Riwayat Imam Muslim 
‎حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ لَهُ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ: قَالَتْ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ، وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ، أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ قَالَ: " يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ جَاءَنِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ، أَوِ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، قَالَ: وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ، قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ " قَالَتْ: فَأَتَاهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، ثُمَّ قَالَ: «يَا عَائِشَةُ وَاللهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قَالَتْ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ؟ قَالَ: «لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللهُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا، فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ» رواه مسلم ‎
Riwayat Imam Bukhari 
قال البخاري رحمه الله في "الصحيح" برقم (5763): حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ عِنْدِي، لَكِنَّهُ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ: "يَا عَائِشَةُ، أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ، أَتَانِي رَجُلاَنِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ فَقَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، وَجُفِّ طَلْعِ نَخْلَةٍ ذَكَرٍ. قَالَ: وَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ " فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَجَاءَ فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ، كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، أَوْ كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَفَلاَ اسْتَخْرَجْتَهُ؟ قَالَ: «قَدْ عَافَانِي اللَّهُ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ فِيهِ شَرًّا» فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ تَابَعَهُ أَبُو أُسَامَةَ، وَأَبُو ضَمْرَةَ، وَابْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ هِشَامٍ، وَقَالَ: اللَّيْثُ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ هِشَامٍ: «فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ» يُقَالُ: المُشَاطَةُ: مَا يَخْرُجُ مِنَ الشَّعَرِ إِذَا مُشِطَ، وَالمُشَاقَةُ: مِنْ مُشَاقَةِ الكَتَّانِ.
وأخرجه مسلم برقم (2189)، وقال: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، به.

Al-Bukhoriy Rohimahulloh berkata di dalam "Ash-Shohih" dengan (no. 5763): 
"Telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Musa, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus, dari Hisyam, dari bapaknya (Urwah Ibnuz Zubair) dari Aisyah Rodhiyallahu 'anha, dia berkata: Telah disihir Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) oleh seorang lelaki dari Bani Zuroiq, dikatakan bahwa namanya adalah Labib Ibnul A'shom, sampai Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengangan-angankan untuk melakukan sesuatu namun beliau tidak melakukannya, sampai-sampai beliau pada suatu hari atau pada suatu malam dan beliau di sisiku, akan tetapi beliau berdoa dan berdoa, kemudian beliau berkata: "Wahai 'Aisyah, apakah kamu merasakan bahwasanya Alloh telah mengabulkan doaku ketika aku berdoa kepada-Nya, telah datang kepadaku dua orang lelaki, lalu salah satu dari keduanya duduk di sisi kepalaku, dan yang lain di sisi kakiku, lalu berkata salah seorang dari keduanya kepada kawannya: Apa yang membaringkan orang ini?
Yang satunya menjawab: "Disihir".
Yang satunya lagi bertanya: "Siapa yang menyihirnya?".
Yang satunya menjawab: "Labib Ibnul A'shom".
Yang satunya bertanya lagi: "Pada sesuatu apa (dia disihir)?".
Yang satunya menjawab: "Pada sisir dan apa yang menyertainya dan pada sisik dari pelepak korma".
Yang satunya bertanya: "Dimana dia?".
Yang satu lagi menjawab: "Di sumur Dzarwan".
Maka Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bersama beberapa shohabatnya mendatanginya, lalu beliau berkata: "Seakan-akan airnya seperti air bekas yang berwarna kekuning-kuningan, atau seakan-anak punuk-punuk pelepak kormanya seperti kepala-kepalanya syaithon". Aku bertanya: "Apakah engkau mengeluarkannya?", beliau menjawab: "Sungguh Alloh telah menyembuhkanku, dan aku benci akan mempengaruhi manusia pada kejelekannya". Maka beliau memerintahkan dengannya lalu ditimbunlah.

Hadits ini memiliki jalur periwayatan dari Abu Usamah, Abu Damroh dan Ibnu Abiz Zinad dari Hisyam. Al-Laits dan Ibnu 'Uyainah berkata: Dari Hisyam:"Dari sisir dan musyaqoh".

Al-Musyaqoh adalah apa yang keluar dari rambut jika disisir, dan Al-Musyaqoh termasuk dari apa yang keluar dari rambut.

Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dengan (no. 2189), beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuroib, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Hisyam, yang semisal (dengan periwayatan Al-Bukhoriy).

Faedah yang bisa dipetik dari hadits ini diantaranya:

Pertama:

Asy-Syaikhoni (Al-Bukhoriy dan Muslim) meriwayatkan hadits ini di dalam "Ash-Shohihain", yang para Ahli ilmu telah bersepakat bahwa keduanya adalah kitab yang paling shohih setelah Kitabulloh, sampai mereka berkata:

"اتفق عليه العلماء من أن أصح كتاب بعد كتاب الله "صحيحا البخارى ومسلم".

"Telah bersepakat tentangnya para ulama, bahwasanya paling shohihnya kitab setelah Kitabulloh adalah shohih Al-Bukhoriy dan Muslim".

Maka dengan kejelasan seperti itu bila kemudian ada yang menolak satu hadits semisal ini maka dia dipertanyakan tentang jati diri dan keislamannya, dan kami tidak menganggapnya sama sekali kalau dia sebagai seorang Ahlissunnah bahkan dia adalah mubtadi' dhol, siapa pun dia, baik itu Ahmad Surkati (sang pendiri firqoh Ali Irsyad) atau masyayikhnya atau yang semisal mereka, mereka menolak hadits semisal ini dengan berbagai macam alasan, ada yang mengatakan karena hadits ahad-lah atau khobar ahad-lah, bagi siapa yang menolaknya maka dipertanyakan keislaman dan aqidahnya, dan para ulama telah berkata:

"من أنكر خبر الواحد فقد رد الشريعة كلها".

"Barang siapa yang menolak khobar ahad maka sungguh dia telah menolak syari'at seluruhnya".
  ‎
Kedua:

Adapun perkataannya: "Telah disihir Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) oleh seorang lelaki dari Bani Zuroiq" maka ini adalah penetapan bahwa Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah disihir.

Dan ini adalah bantahan terhadap orang-orang congkak, sombong dan sok bertaqwa ketika melihat atau mendengar bahwa ada dari Ahlissunnah terkena sihir, mereka pun berkata: "Itu karena mereka lemah tauhidnya dan lemah imannya jadi sihir mengenainya", dengan ucapan mereka seperti ini mereka tidak menyadari kalau mereka telah menghina Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) yang pernah terkena sihir, bagaimana mereka merasa diri paling bertauhid dan paling kuat keimanannya sedangkan mereka memperoleh ilmu tauhid dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), bagaimana mereka mentazkiyyah diri mereka dengan kecongkakan dan kesombongan itu sementara Alloh (تعالى) telah menjaga Nabi-Nya:

{وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ} [المائدة: 67]

"Alloh menjagamu dari (gangguan) manusia, sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir". (Al-Maidah: 67).

Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)seperti itu lalu bagaimana dengan umatnya?, itulah ketentuan Alloh(تعالى), bahwasanya Dia akan selalu menguji hamba-hamba-Nya yang beriman, baik mereka adalah para Nabi atau pun umat-umatnya, Alloh (تعالى) berfirman:

{وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا} [الفرقان: 20]

"Dan Kami telah jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, apakah kalian bersabar?; dan Robbmu adalah Al-Bashir (Maha Melihat)". (Al-Furqan: 20).

Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tidak hanya diuji dengan disihir namun beliau diuji dengan berbagai macam ujian dan cobaan, baik ujian itu datangnya dari syaithon yang berbentuk manusia atau syaithon yang berbentuk jin, Alloh (تعالى) berfirman:

{ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ} [الأنعام: 112]

"Dan Demikianlah Kami telah jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia), Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan". (Al-An'am: 112).

Maka kami katakan kepada saudara-saudariku Ahlisunnah: "Janganlah kalian bersedih hati jika kalian mendapatkan ujian, sebagaimana kami katakan kepada diri kami sendiri untuk senantiasa berharap dengan sebab ujian itu kita akan diampuni dari dosa-dosa kita dan semoga kita dimasukan ke dalam Jannahnya Alloh (تعالى) yang kekal abadi, biarlah orang-orang jahat dan para pedengki mengatakan bahwa kita sedang ditimpakan bala', kita katakan: "Iya, kami sedang ditimpakan bala' akan tetapi bala' yang baik, Robb kami telah menghibur kami:

{وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [الأنفال: 17]

"Dan ditimpakan bala' bagi orang-orang yang beriman, dengan bala' yang baik. Sesungguhnya Alloh adalah As-Sami' (Maha Mendengar) lagi Al-'Alim (Maha Mengetahui)". (Al-Anfal: 17).

Dan Nabi kami Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah menghibur kami dengan hiburan yang sangat menyenangkan, Al-Bukhoriy telah membuat bab khusus tentang masalah ini di dalam "Ash-Shohih", beliau berkata:

"بَابٌ: أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ"

"Bab: Paling besarnya bala' pada manusia adalah para Nabi, kemudian semisalnya kemudian semisalnya".

Dan Ahlussunan kecuali Abu Dawud telah meriwayatkan dari hadits Sa'd bin Abi Waqqosh, beliau berkata:

"يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟".
 ‎
"Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling besar bala'nya?". Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) menjawab:

«الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ، ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ، حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ، وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ»".

"Para Nabi, kemudian semisalnya dan yang semisalnya, ditimpakan bala' kepada seorang hamba disesuaikan dengan keadaan agamanya, jika pada agamanya itu ada kekokohan maka dibesarkan bala'nya, dan jika pada agamanya ada kelemahan (kerendahan) maka ditimpakan bala' sesuai kadar agamanya, dan senantiasa seorang hamba akan ditimpakan bala' sampai dia dibiarkan berjalan di muka bumi dan dia tidak ada padanya dosa"".  

Mereka para penjahat dan para pendengki itu merasa bangga karena tidak sakit, tidak menderita dan tidak kekurangan, maka kami katakan kepada mereka: "Begitulah keadaan Fir'aun!, tidak ada keterangan atau riwayat yang menjelaskan bahwa dia duji dengan sakit, begitu pula para tukang sihir".

Ketiga:

Adapun perkataannya: "sampai Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengangan-angankan untuk melakukan sesuatu namun beliau tidak melakukannya" maka ini sebagai dalil bahwasanya sihir dengan izin Alloh (تعالى) mampu memberikan pengaruh kepada manusia baik jasmani maupun rohaninya, Alloh (تعالى) berkata tentang kisah tukang sihirnya Fir'aun:

{فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ}[الأعراف: 116]

"Maka tatkala mereka melepaskan sihir-sihir mereka, dengan menyihir mata-mata manusia maka manusia merasa takut kepada mereka dan mereka mendatangkan dengan sihir yang besar". (Al-A'rof: 116).

Adapun pengaruhnya kepada jasmani dan rohani maka dia seperti yang dirasakan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan orang-orang yang pernah disihir, yaitu mereka merasakan pada diri-diri mereka rasa sakit yang berat dan daya nalar atau pikiran kacau sampai menginginkan untuk melakukan sesuatu kemudian terlupakan atau tidak teringat dengan rencana tersebut.

Keempat:

Adapun perkataannya: (أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ) "bahwasanya Alloh telah mengabulkan doaku ketika aku berdoa kepadanya" maka Ibnu Hajar Rohimahulloh telah berkata di dalam "Fathul Bariy" (10/228) tentang ma'na dari perkataan ini:

"فِي رِوَايَةِ الْحُمَيْدِيِّ أَفْتَانِي فِي أَمْرٍ اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَيْ أَجَابَنِي فِيمَا دَعَوْتُهُ فَأَطْلَقَ عَلَى الدُّعَاءِ اسْتِفْتَاءً لِأَنَّ الدَّاعِيَ طَالِبٌ وَالْمُجِيبَ مُفْتٍ أَوِ الْمَعْنَى أَجَابَنِي بِمَا سَأَلْتُهُ عَنْهُ لِأَنَّ دُعَاءَهُ كَانَ أَنْ يُطْلِعَهُ اللَّهُ عَلَى حَقِيقَةِ مَا هُوَ فِيهِ لِمَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَمْرِ".

"Di dalam riwayat Al-Humaidiy aftaaniy fii amrinis taftaituhu fiih yaitu Dia mengabulkanku terhadap apa yang aku berdoa kepada-Nya, fatwa diitlakan pada doa karena orang yang berdoa adalah menuntut (meminta), dan yang mengabulkan adalah orang yang berfatwa atau ma'na telah mengabulkanku terhadap apa yang aku telah meminta-Nya tentangnya, karena sesungguhnya doanya supaya Alloh menampakannya atas keadaan yang sebenarnya dari apa yang dia berada pada kesamaran dari suatu perkara".
Apa yang telah dikatakan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) itu termasuk dari bentuk pengajaran, maka hendaknya seorang bapak mengikuti metode tersebut, baik dia mengajari istrinya, putra-putrinya, atau seorang ustadz yang mengajari para muridnya.

Pada perkataan Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tersebut mengandung banyak pelajaran, diantaranya tentang tauhid, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ketika sudah merasakan derita maka beliau langsung berdoa kepada Alloh (تعالى), dengan sebab doa tersebut tersingkaplah apa yang disembunyikan oleh tukang sihir.

Dan hendaknya bagi setiap hamba Alloh untuk mengikuti metode Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ini:

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر: 60]

"Dan Robb kalian telah berkata: "Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian". (Ghofir: 60).

Dan bagi siapa yang enggan dan tidak mau untuk berdoa kepada-Nya maka Dia telah mengancamnya dengan ancaman neraka, sebagaimana perkataan-Nya pada kelanjutan ayat tersebut:

{إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر: 60]

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku maka mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Ghofir: 60).‎

Kelima:

Adapun perkataannya:"Pada sesuatu apa (dia disihir)?" maka ini menunjukkan bahwa sihir memiliki banyak bentuk, terkadang tukang sihirnya langsung melepaskan sihir-sihir mereka dari tangan-tangan mereka, sebagaimana Alloh (تعالى) ‎kisahkan tentang tukang sihirnya Fir'aun:

{قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى (65) قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى (66)} [طه: 65، 66]

"(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Wahai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kami yang memulai melemparkan?", Musa berkata: "Bahkan kalianlah melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka (berlepasan), terbayang kepada Musa seakan-akan dia merayap cepat, lantaran sihir mereka". (Thohaa: 65-66).

Pada sihir mereka ini berbentuk sesuatu seperti tali dan tongkat, dan terkadang mereka (para tukang sihir) ketika melepaskan sihir dari tangan-tangan mereka maka ada pula yang berbentuk api, cairan panas atau berbentuk kawat-kawat, atau sejenis binatang dan hewan atau yang semisalnya.

Ini satu bentuk, dan ada pula bentuk yang lain, yaitu mereka mengirimkan dengan bentuk para jin, yang para jin tersebut kemudian mengganggu dan menyakiti orang yang akan mereka sihir.

Ini satu bentuk pula, dan ada pula bentuk yang lain, yaitu proses pengiriman dari jarak jauh, bila orang yang akan mereka sihir adalah dari kalangan Ahlut tauhid maka mereka mengirimkan sejenis sihir tersebut, seakan-akan mereka sedang melakukan bluetooth. Pada jenis ini terkadang nyasar (salah sasaran), terkadang mengenai pintu rumah orang yang akan disihir, atau terkadang mengenai benda yang ada di samping orang yang akan disihir, dan metode ini mereka sering gagal, karena gagal terus mereka pun menggunakan penopang atau cara seperti yang dilakukan oleh Labib Ibnul A'shom ini, yaitu mereka mengambil rambut atau sisir orang yang akan mereka sihir, atau mereka mengambil foto, pakaian, bekas-bekas atau yang semisalnya, atau mereka juga membuat patung atau yang sejenis boneka yang mereka jadikan boneka tersebut seakan-akan itulah diri orang yang akan mereka sihir, kemudian mereka tusuk patung atau boneka tersebut dengan paku, jarum atau benda tajam lainnya, dan praktek sihir seperti ini terdapat di berbagai tempat di Bumi Nusantara ini;

"أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَقْتُلَ سَوَاحِرَ"

"Aku memohon kepada Alloh untuk membunuh para tukang sihir".

"وَأَسْأَلُهُ أَنْ يُعَذّبَهُمْ بِسِحْرِهِمْ"


"Dan aku memohon kepada-Nya untuk mengazab mereka dengan sihir-sihir mereka".

Keenam:

Adapun perkataannya: "Di sumur Dzarwan" maka ini menunjukan bahwa tukang sihir terkadang menyimpan bahan sihir di sumur, di gua, di kamar khusus atau di tanjung, atau di antara dua batu atau di tempat-tempat yang mereka anggap layak sebagai tempat penyimpanan.

Ketujuh:

Adapun perkataannya: "dan aku benci akan mempengaruhi manusia pada kejelekannya" maka ini menunjukan bahwa beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) sangat kasih sayang terhadap umatnya, Alloh (تعالى) sebutkan tentang sifatnya yang mulia:

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة: 128]

"Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rosul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keselamatan) bagi kalian, sangat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang bermu'min". (At-Taubah: 128).

Adapun para tukang sihir dan para penjahat maka mereka tidak memiliki rasa belas kasihan, mereka melakukan PBB (perlombaan biadab-biadab), di sisi lain para tukang sihir melakukan sihirnya, para penjahat menjalankan makarnya di sisi lain.

Sangat teringat di benak kami dan bagi yang menyaksikan atau mendengarkan, ketika kami sedang tegang-tegangnya dalam melawan serangan sihir, tiba-tiba segerombolan pengacau berupaya pula untuk memudhorotkan kami, salah satu kawan mereka (sebagai juru bicara) dihubungi dengan tujuan supaya kami diangkat ke orang yang berpengaruh, dengan maksud supaya kami diusir, berbagai macam cara mereka jalani, tukang sihir menyerang kami lewat dalam tubuh dan ada dari mereka (para pengacau) mendorong kami dari luar tubuh -وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ-, namun –dengan izin Alloh- mereka tidak akan mampu memudhorotkan kami:

{ لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى} [آل عمران: 111]

"Tidaklah mereka memudhorotkan kalian melainkan hanya gangguan saja". (Ali Imron: 111).

{وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]

"Dan rencana jahat mereka akan hancur". (Fathir: 10).

Walaupun para tukang sihir dan para pengacau, baik yang dari jin maupun yang dari manusia bersatu padu atau berserikat untuk memudhorotkan kami maka sungguh mereka tidak akan sanggup kecuali apa yang telah Robb kami tetapkan, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) Bersabda‎:

"وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»".

"Dan kalau pun mereka bersatu untuk memberikan kemadhorotan kepadamu maka mereka tidak akan mampu memudhorotkanmu melainkan dengan sesuatu yang telah Alloh tuliskan untukmu, telah terangkat pena dan telah tertulis lembaran-lebaran".Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dengan sanad hasan dari hadits ‎Abdulloh bin 'Abbas.

Mengatasi Serangan Sihir

Dalam mengatasi serangan sihir adakalanya dengan menggunakan dzikir-dzikir dan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), dan tentang masalah ini telah kami sebutkan dalam jawaban kami tersendiri ketika ada pertanyaan yang bekaitan dengan ini.

Dan terkadang pula mengatasinya dengan cara menggabungkan tata cara tersebut dengan praktek pengobatan Islamiy seperti bekam dan yang semisalnya, dan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rohimahulloh menyebutkan bahwa serangan sihir diatasi dengan hijamah (berbekam) itu memiliki kesesuaian atau kecocokan dalam penanganan.

Dan Alhamdulillah sekarang kita dapati banyak yang memiliki keahlian dalam masalah ini, ada yang meruqyah orang yang terkena sihir kemudian penanganan terakhirnya dengan cara berbekam, dan ada pula melakukannya dengan cara bersamaan, masing-masing memiliki segi pandang yang berbeda-beda.

Dan ada pula yang mencoba semua tata cara tersebut namun tidak didapatkan hasil atau perubahan kepada diri orang yang terkena sihir, bila keadaannya seperti ini maka hendaknya orang yang disihir tersebut benar-benar bertawakkal dan bersabar, dan yakin bahwa balasan baginya adalah Jannah(surga), 

Asy-Syaikhon meriwayatkan di dalam "Ash-Shohihain" dari hadits dari 'Atho' bin Abi Robah, beliau berkata:Ibnu Abbas berkata kepadaku:

"أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ: «أَنَّهُ رَأَى أُمَّ زُفَرَ تِلْكَ امْرَأَةً طَوِيلَةً سَوْدَاءَ، عَلَى سِتْرِ الكَعْبَةِ»

"Maukah aku kabarkan kepadamu tentang wanita dari penduduk Jannah?", aku berkata: "Tentu", ini adalah wanita yang berkulit hitam, datang kepada Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), lalu dia berkata: "Sesungguhnya saya pingsan-pingsan (karena sebab gangguan), dan sesungguhnya saya terbuka auratku (ketika tertimpa musibah tersebut), maka berdoalah kepada Alloh untuk (menyembuhkan)ku!, beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: "Jika kamu ingin untuk bersabar maka bagimu Jannah, dan jika kamu ingin supaya aku berdoa kepada Alloh untuk menyembuhkanmu", maka dia (wanita tadi) berkata: "Aku akan bersabar". Kemudian dia berkata: "Sesungguhnya saya terbuka auratku (ketika tertimpa musibah tersebut) maka berdoalah kepada Alloh untukku supaya tidak tersingkap, maka beliau mendoakan untuknya".‎


Sumber : berbagai sumber
Previous
Next Post »
Comments
1 Comments

1 komentar:

Click here for komentar
Anonymous
admin
February 18, 2020 at 7:53 AM ×

jazakumullah

Congrats bro Anonymous you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Loading...